Cuti bukumuka

Dua hari yang lalu saya resmi “cuti” dari bukumuka. Memang si bukumuka ini godaannya banyak. Sehari setelah resmi cuti, tiba2 saya bertemu calon teman baru. Lumayan guatel, pengen nge-add, tapi kan lagi cuti. Masa baru sehari udah nyerah? :p

Entah ya, setelah dipikir2 (dan saya termasuk golongan orang yg sering banget overthinking — atau daydreaming? :p ), setahun terakhir ini saya berada dalam fase hidup yang nyaman. Ternyaman dalam 10 tahun belakangan ini. Di bahu dan depan mata saya tidak ada lagi tanggungan/target hidup yang HARUS dikejar (sampai jungkir balik, begadangan, nginep2an, nangis bombay –makin lebay). Masa depan yo masih belum pasti.. tapi apa sih yang pasti dalam hidup ini? kecuali.. well.. bahwa suatu saat kelak kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita..

Sebelum saya makin lebay bombay dan melenceng dari jalur, mari kembali ke alasan mengapa saya memutuskan cuti (lagi, lagi dan lagi) dari bukumuka.

Lima tahun belakangan ini saya belajar untuk benar2 mengapresiasi apa yang saya miliki. Karena semua yang saya miliki itu pinjaman. Terdengar kontradiktif, namun sejatinya, saya tidak benar2 punya kendali penuh atas apa yang saya miliki. Yang saya bisa (dan sejauh ini masih diberikan kekuatan untuk melakukannya) adalah mengendalikan sikap dan perlakuan saya terhadap yang saya miliki.

(iki opo tho piii.. mbulet)

Hal-hal yang sedang saya resapi sekali artinya (dalam hidup saya) adalah berikut:
1. Waktu
2. Masa muda
3. Kesehatan
4. Keluarga dan orang2 terdekat
5. Kebebasan dan kesempatan untuk berusaha dan berjuang
6. Rasa aman (relatif)
7. Mimpi dan motivasi

Berikut penjelasannya:
1. Waktu:
Saya mendengar, membaca, mengalami dan menyaksikan, bagaimana waktu sebenarnya adalah salah satu aset yang paling berharga. Bagi orang yang membutuhkan waktu (dan ini contoh kasusnya macam2), mereka rela membeli waktu dengan harga yang sangat sangat mahal. Ini ironis sekali, karena di sisi yang lain saya juga menyaksikan banyak orang yang kaya dengan waktu namun menghamburkannya begitu saja. Mungkin kadang2 saya tanpa sadar tergiring masuk dalam kelompok tersebut (memalukan, i know).

Pada titik ini saya cukup beruntung bahwa saya berada dalam situasi di mana waktu tidak lagi menjadi konstrain utama saya. Justru ini adalah masa2 di mana saya harus menabung waktu, mengestimasi arah dan tujuan hidup di masa depan dan mengasah kapak/perkakas2 lainnya (sehingga siap ketika dibutuhkan). Sayangnya, semakin hari, jumlah perkakas yang harus saya asah semakin banyak. Lama2 saya merasa waktu saya habis untuk mengasah banyak perkakas sekaligus -simultaneously- (sehingga kualitas hasil asahan saya kurang membanggakan). Ke depannya saya harus belajar memilah dan fokus mengasah perkakas2 yang mendesak dan penting. (Karena itulah bukumuka terlempar dari prioritas hidup saya saat ini)

2. Masa muda:
Sejenis dengan waktu. Masa muda itu mahal harganya. Dan entah bagaimana, waktu berjalan (berlari? atau terbang?) cepat sekali. Tiba2 saya bukan lagi abg unyu2 yang hobi wisata kuliner kemana2 (hobi ngemil sih masih, tapi harus sudah mulai dikendalikan). Masa tua (halah) bukan hal yang bisa dihindari, melainkan justru harus mulai dipersiapkan. Mempersiapkannya ya dari sekarang, selagi masih segar bugar penuh vitalitas (terdengar seperti iklan). Beberapa tahun terakhir ini saya banyak merenungkan tentang tujuan hidup, sembari nonton Cast Away (Tom Hanks) atau Troy (Brad Pitt). Dialog Achilles (Brad Pitt) dan orang2 di sekitarnya membuat kening saya berkerut. Pilih hidup damai sejahtera tapi terlupakan, atau pilih hidup singkat (merana?) tapi dikenang sepanjang masa? Lha kok pilihannya begitu tho masbro? Kalau tanya tentang tujuan hidup ke para akademisi (e.g., sensei saya atau Randy Pausch), kemungkinan besar jawabannya beda (dengan mas Achilles). Jawaban mereka pasti tidak jauh2 dari kontribusi :p Menurut saya, para akademisi ini sudah tercuci otak, hehehe. Karena doctoral thesis isinya memang ga jauh2 dari “(scientific) contribution to human knowledge” 😀

Kesimpulannya, apa tujuan hidup saya?
Pelan2 mulai tergambar (atau tercuci otak?) di benak saya. Saya berharap, benar2 berharap, …
** sudah panjang lebar saya tulis, tapi saya hapus lagi, rasanya berlebihan kalau sampai ditulis di sini **

Masbrooo… baru sampai point nomor 2 tapi postingannya sudah panjaaaang. Grawww.

Dilanjut kapan2 we lah ya. Percuma cuti dari bukumuka tapi nyampah puanjang dan lama di blog, hihihi.
Intinya saya berharap tambahan alokasi waktu (hasil dari cuti bukumuka) ini akan membuat saya semakin produktif (seuuss, wishlist dan to do listnya puanjang, banyaak, dan mengawang2), semakin mengapresiasi yang saya miliki, dan semakin bersyukur. Saya berharap orang2 yang saya sayangi (keluarga dan orang2 terdekat saya) tahu dan mengerti perasaan saya terhadap mereka. Saya berharap perasaan ini tersampaikan (lebayy), bukan melulu dari kata2, tapi dari apa yang saya lakukan 🙂 Aamiinn..

Punya mimpi (dan target) itu harus disiplin. Go for it, pi-chan!

SIM

Singkat cerita, satu tahun terakhir ini heboh pisan. Enam bulan pertama penuh dengan masa transisi (termasuk liburan sejenak dan pulang kampuang *nyengir kuda*). Enam bulan setelahnya, tiba2 ritme hidup saya dikembalikan pada rutinitas yang.. lebih sehat dari biasanya. Yaa.. sudah hitungan tahun, jam tidur-nya kacau balau, jadi terpaksa normal lagi (^ ^). Tapi senang. Saya yakin rutinitas baru ini akan lebih sehat dari (tahun-tahun) sebelumnya. Aamiinn..

Pencapaian paling heboh dalam 6 bulan terakhir ini adalah..
Akhirnya saya punya SIM Jepang, sodara-sodaraaa…

Believe me or not, belajarnya heboh!!! Padahal cuma SIM skuter (<50 cc) doang, cuma harus melewati ujian tertulis plus kursus singkat (2 jam). Tapi asa heboh. Graw, grawww..
Tapi puas abis. Jadi ngerti banyak hal (seus!!), banyak ketawa2 sendiri juga (waktu lagi belajar –> karena nemu topik2 yang “Jepang banget”), dan yang pasti.. (sempet) stress banget!!!

Dari nyari bahan/materinya aja udah heboh. Jaman dulu banget (4 tahun yg lalu kali ya), saya pernah berniat ambil SIM skuter juga. Udah sempet iseng nyoba ujian (sekedar pengen tahu, prosedur dan tempatnya di mana, mumpung waktu itu masih punya temen deket untuk ditanya2). Waktu itu saya juga punya buku tentang peraturan lalu lintas, namanya Rules of the Road, keluaran Japan Automobile Federation (JAF), dan kumpulan contoh2 soal ujian SIM (fotokopian dapet dari temen2). Entah bagaimana, si Rules of the Road ini hilang ketika saya berniat mencoba ambil SIM lagi. Mungkin sempet saya pinjamkan ke teman. Entahlah.

Akhirnya saya pergi ke JAF kota saya lagi, dibela2in naik sepeda. Ternyata JAF-nya sedang tutup, dan kata mas2 yang ga sengaja ketemu di sana, di JAF udah ga jual buku Rules of the Road lagi. Hiyaaa. Heboh. Heboh. Panik.

Tapi satu hal yang saya syukuri. Seringkali, ketika satu pintu ditutup, pintu yang lain dibuka (dan bisa jadi, adalah pintu yang lebih baik dari sebelumnya). Berawal dari frustashion, saya minta Kaigiman untuk googling buku teks materi ujian sim berbahasa inggris. Ternyata ketemu!

Dan kualitasnya luar biasa. Saya sampai jawdrop dibuatnya.
*benerin rahang dulu*

Buku materinya bagus, runut, terstruktur, graww.. seneng banget nemunya. (Alhamdulillaahh…) Lebih seneng lagi waktu nemu bundel kumpulan soal2 berikut jawabannya. Harganya lumayan sih 😀 tapi worth it banget banget. Si buku dan bundel ini ya, walaupun isinya dalam bahasa inggris, tapi kalau googling-nya ga pake bahasa jepang, ga nemu deh! Ajaib. Perhatiin aja situsnya, kanji2 keriting semua begono.

Setelah menghabiskan hampir 2 bulan untuk baca buku teks dari awal sampai akhir, dan mengerjakan seluruh kumpulan2 soal2nya (ampe butek, wkwkwkwk.. berasa brainwash).. akhirnya saya memberanikan diri pergi ke unten menkyo sentaa (Pusat SIM, alias tempat ujian). –> itupun bukan murni karena berani, tapi karena peer pressure :p saya sengaja bilang teman2 dan ke sensei kalau mau ambil SIM, jadi asa tengsin tiap kali bilang mau ambil tapi dicancel terus 😀

Di tempat ambil SIM, tentu saja heboh. Entah bagaimana saya sempat disangka orang Jepang, Juuminhyou (semacam kartu keluarga/kependudukan) saya ditolak karena ga mencantumkan informasi tertentu. Setelah saya tanya detail kenapa saya disuruh pulang (yang bener aje masbro, udah jauh2 nih), ternyata sebabnya cuma karena salah paham. Aheyyy…

Kemudian saya dipersilahkan menuju tahap berikutnya, disuruh mengisi kuesioner berbahasa Jepang. Ee too desu neee.. 😀
Kayanya dulu (4 tahun yg lalu), saya sempet sampai loket ini -deket bahasa Jepang nyaris nol-, ga inget harus ngisi kuesioner bahasa Jepang :-/

Setelah cengo 2 menit, akhirnya saya balik lagi ke loket, minta kuesioner bahasa Inggris. Bukan kenapa2, kalau buat ngisi kuesioner sih mungkin masih bisa tebak2 buah manggis, tapi pegimane klo ujian SIM-nya juga dikasih yg bahasa Jepang?? Yang bahasa inggris aja udah susah. Nehi nehi!!

Setelah saya request kuesioner bahasa inggris, baru deh keluar kertas terjemahannya. Wahh..
Jadi terharu. Ternyata (sepertinya) saya disangka (cukup) bisa berbahasa Jepang, jadi sejak tadi perlakuannya beda dengan ketika saya masih ah-uh-ah-uh empat tahun sebelumnya.
Belajar dari pengalaman, setelah itu, saya sengaja me-lebay-kan ketidakbisaan saya berbahasa Jepang :p Ternyata malah urusannya jadi lancar 😀

Kehebohan selanjutnya baru terjadi ketika pengumuman ujian tertulis SIM. Supaya bisa lulus ujian tertulis ini, skor saya harus melewati threshold 90 point (out of 100, which is, wueduun). Jumlah soal ada 48, terdiri dari 46 soal tipe A (dengan bobot skor 2/soal) dan 2 soal tipe B (dengan bobot skor 4/soal). Ini berarti kan saya cuma boleh salah maksimal 5 soal A, atau 3 soal (1A+2B), dari jumlah total 48 soal.

Empat tahun sebelumnya, ketika saya mencoba ujian tertulis ini (ketika saya belum khatam membaca Rules of the Road! –>> berani2nya!!), skor saya 84 atau 86 gitu. Beda lumayan tipis dari threshold, huhu. Gemes. Karena itulah saya keukeuh mengkhatamkan buku teks yang baru ini, walaupun buku teks yang baru ini bahkan jauh lebih tebal dari Rules of the Road. Pokoknya “say no to miris”.

Merasa persiapan saya sudah lumayan (walaupun belum sempurna), saya melangkah cukup pede masuk ruang ujian. Ketika soal dibagikan, 5 soal pertama langsung membuat saya keringat dingin. Ternyata buku yang saya pelajari, fokusnya untuk ujian SIM mobil, sedangkan semua soal di situ selalu melihat dari sudut pandang roda dua. Tertekan! Pertanyaan yang paling saya ingat, yang membuat saya merasa dodol tingkat dewa: (kurang lebih)
“Pedal rem motor terletak pada ujung jari kaki atau tumit?”
Denggg…. T___T saya kan rencananya mau naik skuter otomatis (remnya di tangan, persis kaya rem sepeda), meneketehe tentang pedal rem motor. Gyaaa.

Selesai ujian, saya galau bombai. Rasanya pengen pulaaang :p
Tapi akhirnya saya kuat2kan untuk melihat hasilnya. .. dan ternyata, nomor saya ga masuk daftar yang lulus.. saya ga lulus (lagi) T___T
Ya udahlah, kita pulang aja!! Saya kuatkan hati menuju loket “kegagalan” untuk mengambil berkas2 yang diperlukan. Dalam hati, saya sudah menyiapkan beribu kata penghibur. “Steve Jobs dan Thomas Alva Edison juga sempat jatuh bangun, pii. Tapi mereka ga semudah itu menyerah. Kamu harus kuatt!!”

Keajaiban pun terjadi. Sesampainya di “loket kegagalan”, di gedung sebelah, nama saya di-halo2. Narunarupii-san dari Indonesia, goukaku, lulus!! Silahkan ke gedung sebelah.
Huh? Ga salah denger nih? Tadi nomor saya ga masuk daftar lulus lho.
Setelah saya maju ke depan loket untuk konfirmasi, ternyata saya bener2 lulus! Heboh! Saya langsung menuju gedung sebelah. Ternyata orang2 gedung sebelah sebel sama saya, karena (disangka) saya telat datang. Ampun dehh… Setelah diburu2 sana sini. Tiba2 saya sudah di depan tempat foto =___= Yaaa, gimana dong.. Gak sempet dandan, sodara-sodaraaaa… T___T Resmi deh foto SIM saya ga ada yang beres (yang dulu di SIM A di Indonesia juga gitu =___=)

Setelah lulus, saya masih harus ikut kursus singkat mengendarai skuter dari Menkyo Sentaa. Rencana-nya sebelum kursus singkat ini, saya mau review ulang, terminologi2 yang mungkin muncul (dalam bahasa Jepang). Tapi badan rasanya sudah lemas sekali. Mata panda (hampir ga tidur), ngantuk banget, udah capek banget.

Ya sudahlah. Malam sebelumnya saya sudah belajar setengah terminologi (dari index buku). Setengahnya lagi, saya relakan.. zzz. Untung instruktur kursus singkatnya baik bangeeet 🙂 setiap kali saya dodol ga ngerti, dia mencoba menjelaskan dalam bahasa Jepang yang sederhana. Kursusnya pun berguna banget, saya jadi (sedikit) lebih pede setelahnya. 🙂

Setelah agak santai, saya renungkan lagi mengapa nomor saya tidak masuk dalam daftar nomor peserta yang lulus ujian. Ternyata nomor yang saya ingat2 itu nomor registrasi, bukan nomor ujian. Pantas saja ketika diumumkan, nomor saya tidak ada …. (ternyata salah ingat nomor)…

Petualangan Richard Feynman di Jepang

Some of the Japanese I had learned had quite an effect, One time, when the bus was taking a long time to get started, some guys says, “Hey, Feynman! You know Japanese; tell ’em to get going!”
I said, “Hayaku! Hayaku! Ikimasho! Ikimasho!” — which means, “Let’s go! Let’s go! Hurry! Hurry!”
I realized my Japanese was out of control. I had learned these phrases from a military phrase book, and they must have been very rude, because everyone at the hotel began to scurry like mice, saying, “Yes, sir! Yes, sir!” and the bus left right away.

At the institute the next day, I said to the guys in the office, “How would I say in Japanese, ‘I solve the Diraq Equation’?”
They said such-and-so.
“OK. Now I want to say, ‘Would you solve the Dirac Equation?’ – how do I say that?”
“Well, you have to use a different word for ‘solve'”, they say.
“Why?” I protested. “When I solve it, I do the the same damn thing as when you solve it!”
“Well, yes, but it’s a different word – it’s more polite”
I gave up. I decided that wasn’t the language for me, and stopped learning Japanese.

Ngakak bacanya. Sewaktu kecil saya berpikir hal yang sama tentang bahasa Jawa (makanya tidak terbersit keinginan untuk belajar :p ). Lha kok sekarang saya terdampar dengan bahasa Jepang.. Wkwkwkwk.

(kutipan diambil dari buku Richard Feynman, nobelis Fisika, “Surely You’re Joking, Mr. Feynman!” )

Sukses dan kaya

Pada suatu ketika, saya tergelincir menemukan artikel di Linkedin, tentang “Satu tanda bahwa anda akan menjadi kaya“. Secara mengejutkan, artikelnya sepaham dengan pemikiran saya selama ini (padahal bacanya sambil angin2an).

Pertama dimulai dengan: apa itu (definisi) kaya? Menurut si artikel:

Being rich is about having an abundance of what matters to you most.

Perfect. Menurut si pembuat artikel, ada banyak cara untuk mengukur kemakmuran, entah dari gaji, pekerjaan/kegiatan sukarela (volunteer), atau memiliki banyak waktu untuk bermain bersama keluarga/anak2. Apapun hal yang kita hargai/impikan, kita disebut kaya jika kita memiliki pasokan yang melimpah tentang hal tersebut.

Jadi, apa satu tanda bahwa kita akan menjadi kaya? Kerja keras, masbro.

The one sign you will be rich is that you work harder than everyone else. Whether your riches are measured in friendships, fitness, talent, or money, those who have an abundance, get it by working harder to secure it.

Kekayaan itu diperjuangkan. Tinggal masalahnya: kekayaan yang seperti apakah yang ingin kita perjuangkan? Punya banyak teman? Sehat dan aktif? Perut kotak2? Keliling dunia? Memiliki kontribusi/memberikan warisan bagi generasi selanjutnya? Mengerti hakikat hidup dan menjadi lebih dekat dengan sang Pencipta? Bergantung kepada si empunya impian.

Yang menarik lagi, menurut artikel ini, setidaknya ada tiga keuntungan tambahan jika kita bekerja keras, yaitu menjadi pakar di bidang tersebut (mastery), memiliki wawasan yang lebih mendalam (insight), dan yang terakhir adalah ‘kesegaran’ (freshness). Point terakhir ini menarik untuk dicermati. Menjadi kaya berarti kita dituntut untuk berkembang, terus menggali ide2 baru, mencari strategi untuk mengefisienkan rutinitas kita sehari2.

Those extra hours of focus bring freshness to life as you work to be better at what you do.

Uwah, menarik. Lepas dari satu artikel, saya jadi ketagihan mencari artikel sejenis lainnya.

Mari kita ringkas saja tentang kebiasaan orang-orang kaya dan atau sukses ini dari beberapa artikel:
1. Berani mengatakan tidak.
“Saying no to a new commitment honors your existing commitments and gives you the opportunity to successfully fulfill them.”
2. Bersyukur. [point ini ditulis di 2 artikel]
“Taking time to contemplate what you’re grateful for reduces the stress hormone cortisol by 23%” –> alias jadi lebih happy, fit, dan semangat (termasuk secara fisik).
“Forget  FOMO (fear of missing out), embrace JOMO (the joy of missing out). People should be focusing on JOMO  — the mantra that “there is nowhere I’d rather be than exactly where I am.” Practice an attitude of gratitude and resisting social-media-induced FOMO is key for a happy weekend”
3. Disconnect, alias menikmati waktu.
“When you make yourself available to your work 24/7, you expose yourself to a constant barrage of stressors.”
4. Tidur cukup (tapi jangan kebablasan juga :p)
“Sleep deprivation raises stress hormone levels on its own, even without a stressor present. Stressful projects often make you feel as if you have no time to sleep, but taking the time to get a decent night’s sleep is often the one thing keeping you from getting things under control.”
5. Berolahraga [point ini ditulis di 2 artikel]
“Getting your body moving for as little as 10 minutes releases GABA, a neurotransmitter that reduces stress by soothing you and helping you stay in control of your emotions”
“Successful people know the importance of an active body for an active mind — weekends included.”
6. Mindfulness (semacam meditasi) [point ini ditulis di 2 artikel]
“Mindfulness is a simple, research-supported form of meditation that is an effective way to gain control of unruly thoughts and behaviors. Essentially, mindfulness helps you stop jumping from one thought to the next, which gives you laser-sharp focus and keeps you from ruminating on negative thoughts”.
“Even the corporate world is acknowledging the benefits of meditation and mindfulness for reducing stress, improving productivity, facilitating creativity and maintaining general well-being”
–> Kalau dalam keyakinan saya, mindfulness ini difasilitasi dengan kegiatan seperti sholat. Oleh karena itu, saya berkeyakinan, sebaik-baiknya sholat adalah yang membuat pelakunya merasa damai, tenang, dan terkontrol.
7. Keukeuh alias pantang menyerah dalam kegagalan.
“Failure can and will happen, regardless of how awesome your work ethic is. The most successful people understand the reality of failure and its importance in finding success. While you may want to run and hide after you fail, you must learn from your mistakes to ensure you don’t fail in the same way the second time around”
8. Membuat rencana. Memasang goal/target harian. [point ini ditulis di 2 artikel]
“Establish small daily goals to achieve your vision more easily”. (Tambahan: jenis goal yang harus dipasang: S.M.A.R.T. — smart, measurable, attainable, realistic, timely.)
“Benjamin Franklin asked himself every morning, “What good shall I do today?” Successful people know the importance of even daily goals — the weekends are no exception”
9. Mengamati (track) perkembangan diri sendiri.
“You can’t make adjustments if you don’t know how you’re doing”
10. Percaya diri.
“Assess yourself to gain a clear understanding of what you are able to accomplish, and use this as fuel to light your own fire”.
11. Komitmen.
12. Waspada.
“f you’re not keyed in to your environment, you’re sure to miss opportunities. Listen to what’s being said about your company, constantly hone feedback, and keep your eyes and ears on your entire industry”
13. Tekun.
“Develop a willingness to work through the challenges you encounter along the way”
14. Berkomunikasi secara profesional.
“Logically explain the benefits. Communicating with confidence will allow you to more easily negotiate your visions”
15. Rendah hati.
“They understand that while extraneous factors come into play, some failure can be chalked up to their own shortcomings. Never forget to hold yourself accountable for every aspect of your life. This is how you’ll remain focused and humble.”
16. Bangun pagi. [point ini ditulis di 2 artikel]
“There is a 25th hour in the day. You’ve just been sleeping through it. Not only are early risers more optimistic and conscientious, they also anticipate problems and minimize them more efficiently”
“Research shows that our brains are sharpest two and a half to four hours after waking”
17. Visualisasi, refleksi. [point ini ditulis di 2 artikel]
“Early hours foster reflection. Take some time to map out your day. Even two minutes of visualization and positive thinking can improve your mood and clarity for the entire day ahead”
“It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure. Step back and reflect on the lessons of the previous week/day and make improvements for the next”
18. Hadapi pekerjaan yang menyebalkan di pagi hari.
Segera selesaikan, ucapkan bye-bye, agar tidak dihantui sepanjang hari. “The morning is the time when you typically have the most energy and feel the most rested”
19. Olahraga di pagi hari.
“Morning workouts not only give you a boost of energy, they pump you up, ensuring your senses are up and running”
20. Bawa bekal/makanan ringan. (NAH!!)
” Smart snacking is critical for keeping your metabolism going and your brain working at full capacity through your busy day”. Apa itu smart snacking??? Kapan2 harus di-eksplor, hahaha.
21. Lempar. Buang.
“Learn to let go of the things that are cluttering your life. So get rid of something – old magazines, junk mail, apps on your phone, old receipts or papers and watch how your attitude changes throughout the day. Our lives get cluttered so easily, but they can become uncluttered just as fast” –> buahahaha. Ngakak bacanya. Makjleb.
22. Tidur lebih cepat.
“Getting the proper sleep your body needs sets you up for success in everything else you want to achieve”
23. Keheningan.
Waking up early offers you opportunities that few get to enjoy – watch the sun rise, hear the sound of birds chirping, and just be still. We are always on the move. Sit and enjoy the morning calm. It’s a brief time where you can be alone with your thoughts. Just breathe.
24. Menikmati waktu bersama orang terdekat.
“Weekends are the time to remind yourself of the forgotten little things — to keep your work-life harmony (the new ‘balance’) in check and reset if needed. Spending time with your friends, children or partner might not directly increase profits that day or propel you into the limelight, but that doesn’t make it any less important.”
25. Beri waktu untuk hobi
“Hobbies can aid success through fostering creativity and relieving stress”
26. Membalas/memberi kembali
“Tom Corley found that 73% of wealthy people volunteer for five or more hours per month. Nothing helps put things in perspective and reduce stress more than helping those less fortunate. Weekends are a great time to get involved in local and community volunteer events”
27. Bersiap untuk weekend.
“Jack Dorsey: “Saturday I take off. I hike. And then Sunday is reflections, feedback, strategy and getting ready for the rest of the week”. You need to hit Monday ready to go.”

Di lain pihak, sikap/kebiasaan seperti apa yang dihindari oleh orang2 ini?
1. Bertanya ‘seandainya’.
” The more time you spend worrying about the possibilities, the less time you’ll spend focusing on taking action that will calm you down and keep your stress under control”
2. Mendendam
“Holding onto stress contributes to high blood pressure and heart disease”
3. Menunggu untuk bertindak.
“Successful people don’t always know the right answer, but they keep moving anyway. Taking action will lead to answers, so don’t let obstacles stall you when you’re searching for the right solution.”
4. Multitasking.
“Multitasking reduces efficiency and effectiveness. Instead, be present for each single activity. Timothy Ferris recommends a maximum of two goals or tasks per day to ensure productivity and accomplishments align”

Kata2 penutup:

Success is a 24/7 lifestyle choice — weekends included!

Sumber:

http://www.forbes.com/sites/travisbradberry/2014/12/09/how-successful-people-handle-stress/
http://www.forbes.com/sites/ilyapozin/2013/10/03/12-things-all-successful-people-do/
http://finance.yahoo.com/news/10-morning-habits-successful-people-110900795.html
http://www.lifehack.org/articles/productivity/12-weekend-habits-highly-successful-people.html

Makin sibuk

Yayaya.. judul postingan saya makin ga kreatif aja.
Ini juga dipaksa2in buat nulis, mengingat per bulan Oktober depan insyaAllah saya akan semakin sibuk.
Berdasar pengalaman sih, kadang kita perlu berhenti sejenak, mereview yang sudah kita lalui/capai, sebelum melanjutkan ke tantangan/kerjaan/target/langkah hidup selanjutnya. Karena kalau ga gitu, kadang kala kita terjebak rutinitas, bosan, dan frustasi, merasa tidak berkembang. Agak mengherankan, karena bisa jadi beberapa saat sebelumnya kita baru saja melalui pencapaian2 yang cukup besar, panjang, dan penuh luka (lebay alert). Pencapaian2 akbar seperti ini bisa saja terlupakan, karena kita dibayangi target/harapan yang baru di depan mata).

Jadi, apa saja yang sudah saya capai akhir2 ini?
Lagi2, ga mungkin eksplisit dituliskan (ya moso dipublish? nehi nehi :p ). Tapi bulan Maret lalu menjadi penutup rangkaian kerja keras saya beberapa tahun terakhir, sekaligus awal dari babak baru. Beberapa bulan ke depannya saya habiskan dengan memulai babak baru, memastikan masa depan, mencari & berpindah tempat tinggal, kemudian nesting & settling down.

Dalam waktu beberapa bulan tersebut, seperti yang saya sebutkan dalam posting sebelumnya, saya memiliki banyak rencana ideal. Rencana2 besar sebagian belum terwujud, atau bahkan belum tersentuh sama sekali, tapi sebagian lainnya sudah mulai menapak. Salah satu rencana yang sudah mulai menapak, adalah apa yang insyaAllah akan mulai saya jalani per awal Oktober depan. Saya sudah berusaha memastikan bahwa rencana ini adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa saya ambil. Semoga langkah ini membawa berkah dan berada dalam lindungan-Nya. Aamiinn..

Rencana lain yang (tentu saja) sudah menapak (namun progressnya terasa lambaatt) adalah (lagi2) kemampuan berbahasa Jepang saya. Jangan bosen ya, hehe. Target NX-1 Desember ini (di mana X adalah level sertifikasi saya sebelumnya) tampaknya harus ditunda cukup jauh ke belakang (*sigh*). Saya tahu diri persiapan saya masih jauh dari cukup. Setidaknya saya menargetkan baca tuntas 7 buku (4 sudah dibaca tapi belum direview ulang, 3 belum selesai).

Target kemampuan berbahasa Jepang saya pun agak kurang fokus. Selain target sertifikasi NX-1 tersebut, saya juga berusaha untuk bisa memahami bahasa Jepang praktis, situasional, dan sering digunakan. Saya ingin bisa menyampaikan isi pikiran saya dalam bahasa Jepang secara cukup luwes (walaupun dengan bahasa yang sederhana). Saya ingin bisa mengobrol santai. Saya ingin bisa berdiskusi mengenai riset/pekerjaan teknik saya dalam bahasa Jepang. Saya mau bisa memahami resep2 bahasa Jepang, pengumuman2 publik di sekitar saya (yang anak SD akhir/SMP awal pun bisa membacanya).

Salah satu solusinya, saya harus banyak-banyak berlatih, berlatih, dan berlatih. Saya mulai dari hal-hal yang cukup ringan (lagu/karaoke, anime) hingga yang agak berat sedikit (mempelajari kosakata dasar dalam pemrosesan sinyal, berusaha menggunakan dan mengerti tools, OS & framework berbahasa Jepang). Saya berharap dalam waktu dekat saya akan memiliki posisi tawar yang cukup, waktu serta dedikasi, untuk menambah satu lagi jalur latihan saya: TV.

Saya mencoba mencuci otak saya, berlatih, berlatih, dan berlatih, hingga tiba waktunya saya memiliki kemampuan yang cukup untuk berbicara secara langsung, tanpa perlu berpikir tentang bahasa yang saya gunakan.

Ya ampun, ini baru tentang dua hal saja. Cabang rencana saya masih ada beberapa2 lagi, termasuk kemampuan teknis saya (elektro, informatik, dll) yang perlu terus diasah dan dieksplor. (Postingan ini bisa sepanjang jalan kenangan kalau diteruskan)

Untuk itu saya tidak boleh malas. Sungguh, malas adalah kata yang harus dibuang jauh2 dari hidup saya. Berat, tapi harus. Bahwa sesungguhnya setiap menit adalah berharga.

Sibuk, sibuuukk…

Nggak, saya ga sibuk, huehue. Sok2n sibuk aja.
Menurut teman baik saya, sepanjang persahabatan kami (haishh), saya berhasil untuk (terlihat) selalu sibuk di matanya.
Tapi berhubung persahabatan kami sebagian besar dilakukan jarak jauh, jadi ya.. mungkin saya berhasil menipu dia, hihi.

Anyway, orang2 yang mengenal saya pasti juga mengenal kegombalan rencana2 saya. Beberapa waktu ini, di kepala saya banyak berkelebat gol2 jangka pendek dan menengah. Harus ditulis nih, karena kata temen saya (teup bawa2 temen, haha.. tapi ini temen yang berbeda kok), “The difference between a goal and a dream, is the written word”, tsahhh..

Itu bukan murni kata temen saya. Karena selain temen saya juga terinspirasi orang lain, kalimat barusan juga saya contek dari kang gugel :\p Tapi kurang lebih begitulah isi wejangan teman saya kepada saya.

Jadi sibuk apa sih pen? Ada dehhh… Moso ditulis di sini tho? Kan maluuu :p #abaikan

Ada ding target yang saya ga terlalu malu buat nulis di sini. Sekarang saya lagi (berusaha) speed up bahasa Jepang. Setelah dihitung2, tahun ini saya resmi berada di Jepang selama xxxx tahun (sensor, teup), tapi kemampuan bahasa Jepang nol besar!!!
Yang barusan lebay. Ga nol banget sih, setidaknya udah NX certified (teup disensor), tapi klo diajak ngobrol? :v Langsung ketahuan deh bahwa waktu ujian, saya banyak nembak (iyaaa, ujiannya pilihan ganda). Atau mungkin karena saya terlalu mikirin grammar, jadi we sebelum ngomong aja uda ribet sendiri di kepala -__- yayaya.. ini memang masalah saya dalam bahasa apapun (termasuk bahasa Indonesia?? humm)

Saya juga punya target2 lain dalam hidup. Intinya, secara teori, bulan-bulan ke depan seharusnya saya habiskan untuk belajar.
Kenapa hidup saya ga lepas dari belajar ya? :-/
Sejujurnya belajar banyak menyenangkannya, terutama saat “aha” moment, hehe.
Saya pribadi menikmati proses transisi dari tidak tahu menjadi tahu, karena di saat2 seperti itu lah kita jadi mensyukuri nikmat pengetahuan yang diberikan-Nya pada kita.
Tapi kadang2 capek juga ya, rasanya banyaaaakkk sekali hal yang saya tidak tahu dan mau tahu.

Yak, sebelum postingan ini semakin random, mari kita sudahi saja 😀
Semangka semuanyaa!!

Playlist lama

Hari ini mendengarkan lagu-lagu dari playlist lama.
Ahh.. 🙂
Memang lagu itu.. seperti terowongan waktu, ya..